Minds, Machine, Judgment and Ethic 14 May 2026

Siapa Bilang Minta Maaf Itu Cukup? 

Pernah tidak Anda merasa yakin melihat sesuatu, tapi orang yang punya kuasa bilang, “Kamu saja yang salah lihat”? Nah, itu inti dari cerita ini. Ada satu hal yang selalu terjadi ketika KEKUASAAN salah dalam menilai. Yang pertama kali dikorbankan itu bukanlah kebenaran, melainkan kepercayaan korban terhadap perasaannya sendiri.

Coba bayangkan ada seorang senior atau atasan yang berkata, “Mungkin itu cuma perasaanmu saja.” Atasan menolak pengalaman orang lain tanpa argumen yang jelas. Caranya adalah dengan meragukan kemampuan orang tersebut untuk mengamati. Mirip seperti yang pernah dijelaskan oleh filsuf Miranda Fricker tentang testimonial injustice, yaitu ketidakadilan yang terjadi ketika hak seseorang untuk dipercaya dicabut, terutama saat ia melaporkan ketidakadilan yang dialaminya. Inilah yang membuat bentuk kezaliman ini terasa lebih kejam dibanding kekerasan fisik. Ia tidak meninggalkan luka memar atau bekas yang bisa difoto. Yang rusak adalah sesuatu yang lebih halus, yaitu keyakinan batin bahwa apa yang kita lihat dengan mata kepala sendiri itu sungguh ada.

Ini sebenarnya bukan soal lomba atau kompetisi. Ini soal bagaimana kekuasaan secara perlahan mengajari orang untuk meragukan dirinya sendiri. Dalam keseharian, kekuasaan tidak selalu muncul dengan amarah atau pukulan. Lebih sering ia datang dengan suara tenang yang bilang, “Kamu salah baca situasi, deh,” atau “Kamu terlalu sensitif, sih,” atau “Kamu kurang paham konteksnya.” Dan karena yang berkata demikian adalah orang dengan jabatan, dengan mikrofon, atau dengan otoritas yang sudah diakui banyak orang, kita pun mulai ragu. Ironisnya, keraguan itu tidak tertuju pada kekuasaan, melainkan pada diri kita sendiri.

Di sinilah gaslighting institusional menjadi lebih berbahaya daripada kebohongan biasa. Kebohongan biasa masih bisa dilawan dengan fakta dan data. Tapi kalau yang diserang adalah kemampuanmu untuk membaca fakta itu sendiri, maka Anda sudah kalah sebelum sempat berdebat. Yang lebih menarik lagi, gaslighting yang paling ampuh justru tidak dilakukan dengan niat jahat. Ia dilakukan dengan santai, dengan nada orang baik yang sedang menjelaskan, dengan keyakinan tulus bahwa kita sedang membantu orang lain memahami kenyataan dengan lebih baik.

Sekarang, mari kita bicarakan soal permintaan maaf. Ada satu hal yang lebih menjengkelkan dari semua itu. Kenapa ya, di negeri ini, permintaan maaf selalu terasa cukup untuk mengakhiri segalanya? Kita hidup dalam budaya yang menempatkan ucapan “saya minta maaf” sebagai titik akhir dari pertanggungjawaban moral. Begitu seseorang mengucapkannya, mekanisme sosial kita seakan langsung berhenti. Orang yang meminta maaf dianggap sudah mengakui kesalahan, orang yang disakiti diharapkan untuk memaafkan, dan semua orang bisa melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa apa.

Padahal, mengakui kesalahan dan memulihkan kerugian adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Minta maaf adalah tindakan yang lebih menguntungkan pelaku karena membebaskannya dari rasa bersalah. Sementara restitusi atau pemulihan adalah tindakan yang menguntungkan korban. Sayangnya, kita hampir tidak pernah serius membicarakan soal restitusi. Dan itu bukan kebetulan. Ada pola di sini. Permintaan maaf yang tidak disertai dengan pemulihan hanyalah sebuah manajemen reputasi yang memakai baju etika.

Tapi pertanyaan paling tidak nyaman belum juga tersentuh. Apa sih sebenarnya yang sedang diajarkan oleh institusi yang setiap hari bicara tentang pilar kebangsaan, namun dalam satu sesi lomba saja tidak bisa memperlakukan pesertanya secara adil? Ini bukan sekadar kesalahan kecil yang bisa dimaklumi. Ini seperti cermin yang memantulkan sesuatu yang sudah lama mengendap, yaitu fakta bahwa pendidikan formal kita lebih sering mengajarkan keadilan sebagai hafalan, bukan sebagai pengalaman hidup.

Anak anak bisa menjawab soal ujian tentang mekanisme konstitusi dengan nilai sempurna, tapi dalam lomba tersebut tidak ada satu pun mekanisme yang melindungi mereka saat otoritas bertindak sewenang wenang tepat di depan mata mereka. Seperti kata Paulo Freire puluhan tahun lalu, pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai demokratis tapi dijalankan dengan logika otoriter hanya akan menghasilkan satu jenis manusia, yaitu mereka yang hafal teks tapi tidak pernah benar benar merasakan bagaimana rasanya diperlakukan setara.

Maka, hikmah yang paling tidak nyaman dari seluruh peristiwa ini bukanlah soal juri yang keliru atau pembawa acara yang salah pilih kata. Hikmah sesungguhnya adalah ini. Kita sudah sangat terbiasa dengan institusi yang minta maaf tanpa memulihkan, yang melakukan evaluasi tanpa pernah mengubah kebiasaan, yang bicara tentang keadilan sambil mempraktikkan kebalikannya. Kita sudah begitu terbiasa, sampai ketika ketidakadilan itu terjadi secara terbuka dan viral sekalipun, respon kolektif kita hanya sebatas berharap ada klarifikasi dan pernyataan resmi yang lebih rapi. Kita tidak marah pada sistemnya. Kita hanya minta sistem itu minta maaf dengan cara yang lebih sopan. Padahal, para siswa yang menjadi korban mungkin suatu saat akan lupa tentang soal soal lomba itu. Mereka mungkin lupa tentang materi ujian atau nama mata lombanya. Tapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya melihat langsung sebuah ketidakadilan dengan mata kepala sendiri, lalu diberi tahu bahwa apa yang mereka lihat hanyalah perasaan mereka sendiri.

Pelajaran pada hari itu tidak tercantum dalam satu pun soal lomba. Pelajaran pada hari itu adalah tentang bagaimana kekuasaan bekerja ketika tidak ada satu orang pun yang berani bilang bahwa raja sedang tidak memakai baju.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *