Apakah Sungguh Manusia Berdaulat?
Premis “algoritma menggiring manusia jadi tidak berdaulat” itu sebenarnya menyembunyikan asumsi yang lebih dalam, bahwa sebelum ada algoritma, apakah manusia berdaulat penuh atas pilihannya. Ini yang perlu dibongkar dulu.
Sebelum TikTok dan YouTube, yang menggiring manusia adalah kurikulum sekolah, mimbar agama, media massa, tetangga termasuk juga budaya keluarga. Bedanya, penggiring lama itu tidak kelihatan sebagai algoritma karena ia menyatu dengan otoritas sosial, jadi terasa seperti “begitulah dunia”. Algoritma justru lebih jujur soal fakta bahwa kamu sedang dipengaruhi, karena ia meninggalkan jejak terukur, bisa diaudit, bisa dimatikan.
Lalu soal “kedaulatan manusia”. Konsep ini, dalam filsafat tindakan, sudah lama bermasalah jauh sebelum Silicon Valley lahir. Manusia tidak pernah memilih dari ruang kosong. Kamu memilih jurusan kuliah karena ada yang menyarankan, memilih agama karena lahir di keluarga tertentu, memilih makanan karena lidahmu dilatih sejak kecil. Kalau standar kedaulatannya adalah “pilihan tanpa pengaruh apa pun”, maka manusia memang tidak pernah berdaulat, dengan atau tanpa algoritma. Argumen ini membuktikan terlalu banyak, dan karena itu malah tidak membuktikan apa-apa.
Yang lebih menarik justru kebalikannya. Algoritma rekomendasi sebagian besar bekerja dengan cara mempelajari preferensi yang sudah kamu nyatakan lewat klik, durasi tonton, dan skip. Jadi yang menggiring bukan algoritma murni, tapi versi kemarin dari dirimu sendiri yang dibekukan jadi data. Kalau kamu merasa terjebak di filter bubble, itu bukan algoritma yang merampas kedaulatanmu, itu kamu yang sedang dijajah oleh kebiasaanmu sendiri yang dipantulkan kembali. Algoritma di sini fungsinya seperti cermin, dan keberatan terhadap cermin biasanya keberatan terhadap apa yang dipantulkannya.
Satu lagi. Tesis “manusia tidak berdaulat karena algoritma” sering diucapkan justru oleh orang yang sedang menulis kritik panjang soal algoritma, membaca riset tentangnya, mematikan rekomendasi default, atau pindah dari satu platform ke platform lain. Tindakan itu sendiri adalah bukti bahwa ruang gerak masih ada. Kalau kedaulatan benar-benar sudah hilang, kritik ini tidak akan muncul.
Jadi pertanyaan yang lebih tajam bukan apakah algoritma merampas kedaulatan?, tapi kedaulatan macam apa yang masuk akal dituntut oleh makhluk sosial yang memang selalu hidup di dalam sistem pengaruh?