Pejuang Hak yang Malas Berkewajiban

Mas Didin, tetanggaku, rajin sekali menggelar spanduk. Setiap ada demo HAM di alun-alun kota, ia pasti di barisan paling depan, megafon di tangan, suara memekakkan telinga. Tapi di gang belakang rumahnya, ada got yang sudah tiga bulan mampet karena ia yang pertama kali buang plastik bubble wrap bekas paketan di sana.

Saya tidak sedang menghina Mas Didin. Saya sedang bercerita tentang kita semua.

Ada yang aneh dari cara kita bicara soal Hak Asasi Manusia belakangan ini. Ia terasa seperti menu restoran yang isinya cuma kolom hak, tanpa kolom kewajiban. Orang bisa pesan banyak dari kolom pertama, lalu meninggalkan meja tanpa bayar. Dan yang lucu, kalau ada yang protes, ia akan dijawab dengan kutipan pasal-pasal konstitusi.

John Locke bilang manusia punya hak alamiah atas kehidupan, kebebasan, dan kepemilikan. Tapi Locke juga bilang manusia masuk ke kontrak sosial justru karena ia punya kewajiban untuk tidak merusak orang lain. Dua hal itu tidak bisa dipisah. Ia satu paket. Seperti beli gorengan, sudah dapat tempe, otomatis dapat cabe rawit satu.

Sartre lebih keras lagi. Ia bilang kebebasan manusia itu mutlak, tapi justru itulah bebannya. Bebas bukan berarti bebas dari tanggung jawab, melainkan bebas dengan tanggung jawab penuh atas setiap pilihannya. Kita, kata Sartre, dikutuk untuk bebas. Dan kutukan itu datang bersama konsekuensinya.

Masalahnya, narasi HAM yang kita konsumsi setiap hari sering memotong bagian Sartre yang kedua.

Kita tuntut hak bebas berpendapat, tapi komentarnya anonim dan menyerang pribadi. Kita serukan hak atas lingkungan hidup yang sehat, tapi tempat sampah cuma berjarak tiga meter dari titik kita berdiri saat membuang bungkus plastik sembarangan. Kita minta negara melindungi kita, tapi formulir pajak kita isi asal-asalan atau tidak diisi sama sekali.

Ini bukan soal siapa yang jahat dan siapa yang baik. Ini soal logika dasar yang kita lupa: setiap hak seseorang bisa ada karena ada orang lain yang sedang menjalankan kewajibannya. Kamu bisa tidur nyenyak malam ini karena ada orang yang sedang jaga malam di posnya. Kamu bisa makan nasi yang terjangkau karena petani di suatu desa di Jawa Tengah bangun jam empat pagi, turun ke sawah, dan tidak sedang demo meminta keadilan pagi itu, ia sedang menunaikan kewajibannya.

Rasulullah pernah ditanya, siapa Muslim yang paling sempurna imannya? Beliau menjawab, yang paling baik akhlaknya terhadap sesama. Bukan yang paling keras menyuarakan haknya. Bukan yang paling lantang menuntut keadilan. Yang paling baik perilakunya kepada orang lain.

Itu kewajiban. Bukan hak.

Pelanggaran HAM tidak pernah terjadi dari ruang kosong. Ia selalu punya dua sisi. Ada yang dilanggar haknya, ya, tapi juga selalu ada yang tidak menjalankan kewajibannya. Negara menindas warganya karena pejabatnya lupa tugasnya. Korporasi merusak hutan adat karena ia mengingkari tanggung jawab sosialnya. Bully di sekolah merenggut rasa aman orang lain karena ia tidak belajar berempati.

Saya usul, Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (KEMENKUMHAM) dilengkapi jadi Kementrian Hukum, Kewajiban dan Hak Asasi Manusia (KEMENKUMKAHAM), biar makin seru. 

Kalau kita benar-benar serius ingin dunia yang lebih adil, mungkin kita perlu mulai dengan pertanyaan yang berbeda. Bukan cuma, hak apa yang belum saya dapatkan? Tapi juga, kewajiban apa yang belum saya tunaikan?

Mas Didin sedang angkat megafon lagi di luar sana. Kali ini soal hak warga atas sanitasi yang layak.

Got di belakang rumahnya masih mampet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *