Sistem Hukum Kita Tidak Rusak: Ia Bekerja Persis Seperti yang Dirancang

Suatu malam, seorang tukang parkir liar memasukkan tiga ribu rupiah ke sakunya. Uang kembalian yang tidak ia kembalikan. Dua jam kemudian ia digiring ke kantor polisi. Kasusnya beres dalam sepekan.

Di kota lain, seorang bos proyek menandatangani laporan keuangan dengan angka yang sudah digelembungkan. Miliaran. Jembatan yang dibangun dari sisa anggarannya ambrol enam bulan kemudian. Dua orang terluka. Bos itu diperiksa internal, diminta mengembalikan sebagian uang, lalu kembali ke mejanya. Hari ini mungkin ia sedang makan siang di restoran yang harga appetizer-nya lebih mahal dari gaji tukang parkir tadi sebulan.

Ini bukan cerita fiksi. Ini pola.

Kant punya jawaban yang rapi untuk soal ini. Bagi Kant, hukuman bukan alat untuk mencegah kejahatan berikutnya. Hukuman adalah kewajiban moral, titik. Siapa pun yang merendahkan martabat orang lain harus dibayar setimpal, tidak peduli seberapa besar kerusakannya. Bos proyek itu wajib dipenjara, sama seperti tukang parkir. Karena keduanya memilih memperlakukan orang lain sebagai alat, bukan sebagai manusia.

Kedengarannya adil. Tapi Kant lupa bahwa di dunia nyata, martabat manusia ternyata bisa dikemas ulang dalam bahasa pengacara dan dinegosiasikan di ruang sidang yang ber-AC.

Bentham berpikir berbeda. Bagi Bentham, penjara itu mahal dan menyakitkan, jadi hanya boleh dipakai kalau tidak ada cara lain. Kalau bos proyek bisa dipaksa mengganti kerugian, mencabut izinnya, dan memastikan korban pulih, kenapa harus penjara. Masuk akal di atas kertas. Tapi yang terjadi, logika efisiensi ini justru menjadi tameng paling nyaman bagi mereka yang punya cukup uang untuk membayar akibat perbuatannya.

Hasilnya kita sudah tahu. Kant berlaku untuk tukang parkir. Bentham berlaku untuk bos proyek. Sistem memilih teorinya tergantung siapa yang berdiri di depan hakim.

Di sinilah Islam masuk, tapi bukan sebagai pilihan ketiga yang lebih baik dari dua pilihan sebelumnya. Islam tidak berdiri di atas bahu Kant atau Bentham. Ia berpijak di tempat yang berbeda sejak awal.

Kant dan Bentham sama-sama memulai dari satu pertanyaan yang sama: apa yang masuk akal bagi manusia. Kant menggunakan akal untuk menetapkan kewajiban moral. Bentham menggunakan akal untuk menghitung manfaat dan kerugian. Keduanya percaya bahwa pikiran manusia cukup untuk membangun sistem keadilan yang benar.

Islam mempertanyakan premis itu sendiri.

Bukan karena akal tidak penting. Tapi karena akal manusia, sebagus apapun, selalu beroperasi di dalam kepentingan. Hakim yang cerdas tetap bisa disuap. Sistem yang dirancang oleh jenius tetap bisa diakali oleh jenius lain yang lebih kaya. Sejarah hukum Barat sendiri membuktikannya, dulu hukum yang sama menghukum mati pencuri kambing dan membebaskan perampok tanah. Akal tidak otomatis menghasilkan keadilan. Ia menghasilkan sistem yang masuk akal bagi mereka yang merancangnya.

Islam menawarkan fondasi yang tidak bisa dilobi. Bukan karena hukumnya keras, tapi karena sumbernya bukan manusia. Keadilan dalam Islam bukan hasil konsensus atau perhitungan, ia adalah perintah dari yang tidak punya kepentingan apa pun atas keputusan itu.

Konsekuensinya serius. Hakim dalam tradisi Islam bukan hanya bertanggung jawab kepada atasan atau kepada publik. Ia bertanggung jawab kepada Allah. Itu bukan slogan. Itu sistem akuntabilitas yang bekerja bahkan ketika tidak ada kamera, tidak ada jurnalis, tidak ada KPK.

Dulu seorang perempuan dari keluarga terpandang di Makkah tertangkap mencuri. Para sahabat segan menghadap Nabi karena tahu hukumannya tidak ringan. Salah seorang dari mereka, Usamah bin Zaid, memberanikan diri memohon keringanan.

Nabi menjawab dengan kalimat yang, kalau dipikir, seharusnya membuat seluruh ruang sidang di manapun terasa malu: sungguh, seandainya Fatimah binti Muhammad yang mencuri, pasti aku potong tangannya.

Tidak ada ruang untuk negosiasi berdasarkan nama. Tidak ada diskon karena status. Ini bukan kekakuan. Ini konsistensi yang lahir dari keyakinan bahwa semua manusia, betapapun berbeda jabatan dan hartanya, berdiri di tanah yang sama di hadapan hukum yang sama.

Kita hidup di sistem yang sudah memilih. Ia memilih Kant untuk yang kecil dan Bentham untuk yang besar. Konsisten dalam ketidakkonsistenannya. Dan kita, kebanyakan, sudah terbiasa.

Yang menarik bukan teorinya. Yang menarik adalah pertanyaan di belakangnya.

Tukang parkir itu sudah lama keluar dari sel. Bos proyeknya, entah. Mungkin masih makan siang di tempat yang sama.

Yang perlu kita tanyakan sekarang bukan lagi sistem mana yang lebih adil secara teori. Tapi apakah kita masih sanggup marah pada sistem yang tidak adil?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *