Philosophy of Law
Siapa yang Menurut Siapa?

Saya punya teman. Namanya tidak perlu disebut, karena di kampung kami ada dua orang dengan nama yang sama, dan kalau saya sebut, yang satu akan tersinggung merasa dirujuk, padahal yang saya maksud adalah yang satunya lagi. Teman saya ini adalah orang yang paling taat aturan yang pernah saya kenal. Kalau lampu merah menyala di jalan […]

Read more
Philosophy of Law
Pejuang Hak yang Malas Berkewajiban

Mas Didin, tetanggaku, rajin sekali menggelar spanduk. Setiap ada demo HAM di alun-alun kota, ia pasti di barisan paling depan, megafon di tangan, suara memekakkan telinga. Tapi di gang belakang rumahnya, ada got yang sudah tiga bulan mampet karena ia yang pertama kali buang plastik bubble wrap bekas paketan di sana. Saya tidak sedang menghina […]

Read more
Philosophy of Law
Hakim Tidak Punya Hak Memutus (Tapi Kita Biarkan Saja)

Kita anggap pengadilan sebagai hal biasa. Gugat, dengar, putus, bayar atau tunduk. Jarang yang tanyakan: dari mana hakim dapat wewenang untuk memaksakan keputusannya? Hans Kelsen bilang hukum itu seperti bangunan berlapis. Setiap aturan ditopang aturan di atasnya sampai kita capai "aturan dasar" yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Sistemnya jadi logis dan terukur. Hakim tidak bisa […]

Read more
Philosophy of Law
Apakah Sungguh Manusia Berdaulat?

Premis "algoritma menggiring manusia jadi tidak berdaulat" itu sebenarnya menyembunyikan asumsi yang lebih dalam, bahwa sebelum ada algoritma, apakah manusia berdaulat penuh atas pilihannya. Ini yang perlu dibongkar dulu. Sebelum TikTok dan YouTube, yang menggiring manusia adalah kurikulum sekolah, mimbar agama, media massa, tetangga termasuk juga budaya keluarga. Bedanya, penggiring lama itu tidak kelihatan sebagai […]

Read more