Sunnah dan Hadis: Kembar yang Tak Selalu Sama
Suatu sore di teras rumah kecil di pinggiran kota, ketika angin membawa bau hujan dari arah selatan dan cicak di dinding baru saja menyelesaikan urusannya dengan seekor nyamuk dengan cara yang sama sekali tidak dramatis.
Seorang mahasiswa bertanya, "Sunnah sama hadis itu beda atau sama?"
Kamu pernah punya nenek yang masakannya tidak ada tandingannya di satu RT?
Saya membuka dengan pertanyaan semacam itu. Pertanyaan yang kelihatannya tidak ada hubungannya dengan topik, tapi ternyata adalah seluruh topiknya.
Katakanlah nenekmu punya resep opor ayam yang membuat orang dari gang sebelah sengaja lewat di depan rumah waktu Lebaran. Suatu hari ada keponakan yang bertanya cara membuatnya, dan nenek itu mendiktekan langkah-langkahnya. Dituliskan di buku tulis usang. Difoto dengan handphone yang retak layarnya. Dibagikan ke grup WhatsApp keluarga yang isinya tiga generasi dengan tingkat literasi digital yang berbeda-beda.
Catatan itu adalah hadis.
Tapi cara nenek memasak, cara ia mengira-ngira berapa lama mengaduk tanpa melihat jam, cara ia mencium santan untuk memastikan belum basi, cara ia tahu kapan api harus dikecilkan hanya dari suara wajan, semua yang ia kerjakan sebelum ada yang bertanya dan menuliskannya, itulah sunnah.
Ini bukan sekadar perbedaan urutan waktu. Ini perbedaan hakikat. Hadis adalah teks, laporan, narasi yang kita terima melalui rantai periwayat. Sunnah adalah praktik itu sendiri, cara hidup yang dijalani, yang mungkin saja lebih luas dari apa yang berhasil ditangkap oleh setiap hadis yang ada. Sunnah ada lebih dulu. Hadis datang kemudian untuk mencatatnya.
Dalam ilmu usul fikih, perbedaan ini punya konsekuensi yang nyata.
Hadis, secara teknis, adalah riwayat. Ia bisa sahih, bisa daif. Bisa masyhur, bisa hanya diriwayatkan satu orang. Ada ilmu khusus yang mempelajari seluk-beluk ini: mustalah al-hadis. Bidang yang sangat besar, dengan istilah yang banyaknya bisa membuat mahasiswa semester pertama menatap langit-langit kamar kos mereka dalam diam yang cukup lama.
Sunnah, di sisi lain, adalah praktiknya sendiri. Cara yang diwariskan. Bukan catatannya, tapi isinya. Bukan foto apinya, tapi apinya.
Para sahabat Nabi, mereka yang hidup di sekelilingnya dan melihat langsung, mewarisi sunnah bukan terutama lewat tulisan. Mereka melihat. Mereka meniru. Mereka membawa cara itu dalam tubuh dan kebiasaan mereka, lalu menurunkannya kepada generasi berikutnya dengan cara yang sama. Sunnah hidup di dalam komunitas, di dalam gerakan, di dalam cara sujud dan cara makan dan cara berwudhu yang diturunkan dari tangan ke tangan, lama sebelum ada yang bertanya untuk menuliskannya.
Ketika para ulama kemudian mulai mengumpulkan dan membukukan hadis, mereka sedang berusaha menangkap sunnah itu ke dalam teks. Upaya yang sangat penting. Dan juga, seperti semua upaya penting, tidak pernah sempurna sepenuhnya.
Ini tidak berarti hadis kurang penting dari sunnah. Justru sebaliknya: bagi kita yang lahir berabad-abad setelah masa Nabi, hadis adalah cara paling dapat diandalkan untuk mengetahui sunnah. Tanpa hadis, kita hanya bisa menebak-nebak. Yang penting dipahami adalah bahwa keduanya bukan hal yang identik, dan perbedaan itu kadang menentukan cara ulama mengambil kesimpulan hukum.
Ada lapisan lain yang perlu diketahui.
Dalam fikih sehari-hari, kata sunnah juga punya arti yang lebih spesifik. Ia berarti amalan yang dianjurkan: bila dikerjakan mendapat pahala, bila ditinggalkan tidak berdosa. Ini salah satu dari lima tingkatan hukum Islam, bersama wajib, haram, makruh, dan mubah.
Jadi ketika seseorang bilang "ini sunnah," ia bisa sedang bicara dalam tiga kemungkinan sekaligus. Sunnah sebagai jalan yang dicontohkan Nabi secara umum. Sunnah sebagai sumber hukum Islam di samping Al-Quran. Atau sunnah sebagai status hukum yang berarti dianjurkan tapi tidak wajib.
Konteksnyalah yang menentukan maksudnya.
Banyak kerancuan dalam diskusi hukum Islam bukan karena aturannya yang rumit, tapi karena kata-katanya memikul beban ganda. Kata yang sama, makna berbeda, tergantung di mana ia berdiri dalam kalimat dan dalam disiplin ilmu yang mana ia digunakan. Inilah kenapa para ulama dulu begitu teliti mendefinisikan istilah sebelum memulai pembahasan. Mereka tahu bahwa orang yang tidak sepakat soal definisi tidak sedang berdebat tentang isi persoalan, tapi tentang kata.
Seperti dua orang yang berdebat soal apakah kucing itu binatang yang setia. Yang satu punya kucing yang selalu pulang setelah berkeliaran. Yang satu punya kucing yang pergi tiga tahun lalu dan tidak pernah kembali. Mereka tidak sedang berdebat soal kucing. Mereka berdebat soal definisi setia. Dan keduanya tidak salah tentang kucingnya masing-masing.
Memahami bahwa sunnah dan hadis adalah dua hal yang berkaitan erat tapi bukan hal yang sama membantu kita membaca diskusi ulama dengan lebih tepat. Kenapa mereka bisa berbeda pendapat tentang apakah sesuatu benar-benar bagian dari sunnah, meski ada hadisnya. Kenapa ada praktik yang dianggap sunnah oleh satu komunitas meski tidak ditemukan dalam hadis yang eksplisit. Kenapa para ahli hadis dan para ahli fikih kadang berbicara tentang hal yang sepertinya sama tapi dengan cara yang berbeda.
Hadis adalah foto. Sunnah adalah orangnya.
Fotonya bisa ribuan. Orangnya satu.
Dan seperti foto, hadis sangat berharga. Tapi kita tahu bahwa memiliki ribuan foto seseorang belum tentu berarti kita benar-benar mengenalnya.
Di luar teras, cicak masih di dinding yang sama. Nyamuk berikutnya sudah mendekat. Cicak itu tidak punya catatan tentang teknik berburu. Tidak ada hadis di kepalanya. Tapi ia tahu persis caranya, karena cara itu sudah ada dalam tubuhnya, diwariskan tanpa perlu dituliskan dulu.
Mungkin itulah yang paling mendekati pengertian sunnah sebelum ada yang bertanya dan membuatnya menjadi hadis. Sesuatu yang cukup hidup untuk tidak perlu penjelasan.
